Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk
Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug. Basis bank protein dari daratan ini memiliki konsep pengembangan ekonomi kawasan berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir. Model yang tepat sebagai pola pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan daratan rendah.

30 Jul 2016

Lokal dalam sensasi Global : Festival Budaya Kampung Tjelaket

          Seringkali penulis menemukan argument yang menyatakan "kematian budaya lokal" atau "matinya budaya lokal" atau juga beberapa artikel yang "menyatakan melemahnya budaya lokal" sebenarnya penulispun juga merasakan begitu pada awalnya modernisasi dan globalisasi yang melanda Indonesia akhir-akhir ini sering mengalihkan fokus generasi muda ke ranah budaya kekinian. Upload medsos, foto selfi, ngetrip selfi, pornografi, bahkan hingga faham seksualitas yang meninggi dan tidak pada tempatnya. Mereka kaum muda seringkali berkomentar seenak udelnya saja di media sosial tanpa tahu sejarah, esensi dan pertanggung jawaban dari komentar yang mereka unggah. Belum lagi paham Islam radikal membawa pengaruh besar bagi kaum muda yang seringkali mencemooh budaya lokal. 
          budaya lokal terus menerus tergeser membuat seoalah dia segan bernafas. Kalau kata "orang Mati segan hidup tak mau", nah lo.. jadi bingung. Namun, prediksi ini meleset jauh kenapa? karena buktinya semakin global kita justru semakin dicari kebudayaan lokal kita. Efek ini ditimbulkan setelah pasar bebas muncul sebagai tempat pertukaran ekonomi dimana object ekonomi ini memanfaatkan komunitas masyarakat dalam lingkup luas. Dari mulai AFTA hingga CAFTA semua menjadi satu jaringan komunitas perputaran dan pertambahan modal lintas Asia Tenggara dan Asia Tenggara-Cina. Fungsinya, agar bisa bersaing baik dalam sumberdaya manusia, sumber daya budaya dan sumber daya alam di ranah Asia Tenggara. Sehingga, dibentuk lah MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau AEC (Asean Economic Comunity). Lah terus kenapa lis- penulis??? isu ini awalnya terlihat biasa-biasa saja di permukaan, namun berbeda di dalamnya penguatan budaya lokal menciptakan beregam variasi pola di masyarakat. Dibeberapa kelompok masyarakat perkotaan mereka bahkan telah siap mengumangdangkan identitas budaya mereka agar mampu bersaing di ranah global. Yaa... meskipun kekuatan publikasi nya masih minim, tapi itulah yang nanti akan berproses dengan sendirinya. 
          Contoh dari aktifitas penguatan budaya ini dapat dilihat dari Festival Budaya Kampung Tjelaket. Tjelaket sendiri merupakan salah satu perkampungan masyarakat yang berada di Kota Malang. Sebenarnya namanya adalah Kelurahan Rampal-Celaket dan tidak ditulis menggunakan 'Tj'. Huruf ejaan lama tersebut sebenarnya hanya digunakan sebagai brand karena budaya mengenal sejarah jadi harus 'jadul' biar kerasa "Tempoe Doloe' mungkin begitu. Tapi, ini hanya opini penulis saja lo...jadi tidak memiliki akurasi data yang cukup kuat. Kampung Budaya Tjelaket sebenarnya mengakomodir budaya lokal kota Malang dan menampilkannya dalam bentuk festival lokal. Menurut masyarakat disana, festival budaya sudah sering diadakan. Festival yang awalnya (2010) bernama Rampal Celaket Bersyukur ini akan menciptakan wahana pembelajaran akan pentingnya menjaga ketahanan budaya nusantara (sumber: http://kelrampalcelaket.malangkota.go.id/2016/07/21/fesstival-kampoeng-tjelaket/). Kampung Budaya Tjelaket ini diadakan 23-24 Juli 2016 dengan agenda pementasan budaya yang cukup padat dari mulai atraksi bantengan, talk show budaya, pasar rakyat hingga petas puisi lokal. kesadaran budaya lokal sebagai warisan nenek moyang dirasa menjadi satu modal untuk survive di ranah global. Menjadi untuk ditelaah bahwa gambaran mengenai kuatnya budaya lokal sebelumnya telah diramalkan oleh futurologi Naisbitt menjelaskan bahwa :
semakin kita menjadi universal, maka tindakan kita semakin menjadi kesukuan atau lebih berorientasi ‘kesukuan’ dan berpikir secara lokal, namun bertindak global” (Surahman, 2013, hlm. 32)
Referensi
Surahman, S. (2013). Dampak Globalisasi Media Terhadap Seni dan Budaya Indonesia. Jurnal Komunikasi, Volume 2, Nomor 1, Jan - April , 29 - 38.
 

- info : Liputan mengenai kampung budaya Tjelaket sedikit terbatas ya... karena keterbatasan tenaga dari penulis jadi hehehehe cuma liputan pentas seni bantengan saja, terimakasih
 Suasana Festival Kampung Budaya Tjelaket

Susunan Acara yang Padat

Gapura Masuk Area Pementasan Budaya

 Pasar Rakyat

Pertunjukan Seni Bantengan

0 comments:

Posting Komentar

Share on

Twitter Linkedin Instagram Facebook

Find Me