Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk
Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug. Basis bank protein dari daratan ini memiliki konsep pengembangan ekonomi kawasan berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir. Model yang tepat sebagai pola pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan daratan rendah.

10 Jul 2019

Petilasan Gajah Mada : Kisah Cinta dan Kesetian Sang Mahapatih Gajah Mada (Edisi Kedua)


    Sebuah kisah cinta terekam dari Petilasan Mahapatih Gajah Mada di Desa Lambang Kuning. Keberadaan Gajah Mada di Desa tersebut dilatarbelakangi kisah cinta antara Hayam Wuruk dan Sri Dyah Pitaloka Putri Cantik dari Kerajaan Padjajaran. Raja Hayam Wuruk bermasuk ingin melamar Sri Dyah Pitaloka untuk dipersunting olehnya dan mengutus Patih Gajah Mada dalam proses lamaran tersebut. Mahapatih Gajah Mada menolak rencana itu, baginya dia telah berjanji pada sumpah Palapanya bahwasanya semua kerajaan termasuk padjajaran harus takluk dibawah panji-panji Majapahit. Putri Padjajaran menurutnya harus menjadi putri sasrahan atau putri taklukan dan bukan dilamar seperti yang dimaksud Raja Hayam Wuruk.

Foto Papan Informasi Kisah Cinta Maha Patih Gajah Mada 

    Terjadi pertempuran antara Majapahit dan Padjajaran yang mengakibatkan gugurnya Raja Padjajaran beserta Putrinya Sri Dyah Pitaloka. Mendengar berita tersebut Raja Hayam Wuruk murka  kepada Mahapatih Gajah Mada. Untuk menghindari konflik saudara di kerajaan Majapahit, sang patih pun mengalah meninggalkan kerajaan dan mengasingkan diri jauh dari pusat kerajaan dengan membawa sekelompok pasukan inti kerajaan yang bernama Bayangkara.

Foto Pagar Makam Roro Kuning 

       Tempat pengasingan sang Mahapatih berada di sebelah barat Sungai Brantas tepatnya diwilayah perdikan Karang Kletak. Wilayah ini sebelumnya telah di babat oleh Senopati Majapahit yakni Iro Robo. Sebelum Patih Gajah Mada datang, Iro Robo telah menyiapkan sebuah benteng yang terbuat dari batu bata merah serta sebuah rumah yang terbuat dari Gladak Kayu Jati di Puthuk Boto yaitu 300 meter dari lokasi situs Petilasan Gajah Mada. Rumah Gladak Kayu Jati tersebut telah lama dihuni oleh Ratu Niang atau Roro Kuning atau Rondo Kuning yang telah dijaga Senopati Iro Boro beserta puluhan pasukannnya.

Foto Makam Roro Kuning 

      Setelah tiba di Karang Kletak, Patih Gajah Mada menikah dengan Roro Kuning dan hidup sederhana menjadi seorang petani dan beternak untuk menghilangkan jati dirinya. Dia juga dikenal dengan panggilan Mbah Budho. Dengan nama panggilan tersebut diharapkan prejurit pimpinan Hayam Wuruk kesulitan menemukannya. Dalam persembunyiannya Mbah Budho melakukan pertapaan atau semedi kepada Sang Hyang Widhi  untuk menyempurnakan hidupnya. Beberapa karya beliau hasilkan seperti Kitab Sutasoma, Negara Kertagama dan Kutara Saranawa. Kitab Negara Kertagama menuat kalimat “ Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangwara” yang artinya Berbeda-beda tetapi satu, tidak ada kebenaran yang bermuka dua. Kata Bhineka Tunggal Ika sekarang ini menjadi simbol negara Indonesia yang tertulis dalam pita yang di cengkram burung garuda.

       Kisah cinta sang Patih kemudian dipisahkan oleh maut, Nyai Roro Kuning meninggal dan dikebumikan di Desa Lambang Kuning yang saat ini menjadi situs petilasan. Makam utama yang berpagar dinyakini adalah Makan Nyai Roro Kuning yang didekatnya terdapat batu datar tempat semedi sang Mahapatih. Mahapatih pun memutuskan pergi dari desa tersebut dan membawa pasuakannya. Beberapa literatur menjelaskan Patih Gajah Mada pergi ke Bali dan menikah dengan anak raja, namun informasi ini silakan dicross cek sendiri. Berapa keyakinan masyarakat, Patih Gajah Mada Moksa atau hilang di suatu tempat yang diyakini ada di Trenggalek yakni Gua Gajah Mada.

        Foto Makam Roro Kuning dari sisi Barat 

        Seluruh sumber cerita ini merupakan sanduran dari informasi di papan informasi yang kata-katanya mulai meluntur terkena hujan dan panas. Bagi yang tertarik dilakan datang langsung ke Desa Lambang Kuning di Kertosono Nganjuk ya…!

0 comments:

Posting Komentar

Share on

Twitter Linkedin Instagram Facebook

Find Me