Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk

Kawasan Minapolitan Badug di Kabupaten Nganjuk
Ibu-ibu menjadi aktor utama penggerak ekonomi di kawasan Minapolitan di Bendungan Badug. Basis bank protein dari daratan ini memiliki konsep pengembangan ekonomi kawasan berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir. Model yang tepat sebagai pola pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan daratan rendah.

19 Sep 2019

Melepas Tawa Senjan di Cafe Embung Turi-Turi

Ada yang tau Embung? Atau pernah mengunjungi Embung?

Embung merupakan danau kecil atau waduk bersekala kecil yang dibuat dengan fungsi mencukupi kebutuhan air saat kemarau. Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kurang lebih 49 embung tersebar di empat kabupaten. Selain digunakan untuk pemenuhan kebutuhan air, embung juga digunakan sebagai objek rekreasi dan pariwisata. Saya tidak akan mengulas banyak tentang fungsi dan definisi atau struktur bangunan embung.

Perjalanan saya kali ini, singgah di salah satu tempat tongkrongan yang berada di pinggir Embung Turi, Sleman. Cafe ini namanya Turi-Turi Coffee. Bagi kamu yang ingin melepas penat, kafe ini bisa menjadi solusinya.

Berada di pinggir Embung, membuat Cafe Turi-Turi punya suasana yang khas. Pemandangan yang disuguhi dengan berbagai wahana pendukung embung membuat suasana hati menjadi gembira.  Beruntungnya saya, saat berkunjung ke Embung ini, suasana sendang senja. Saat itu, cafe tidak terlalu rame, sehingga menciptakan suasana yang Romantis.






Interior cafe ini juga cukup menarik hati. Di depan cafe tepatnya di pinggir Embung berjajar tempat duduk dan kursi. Tempat ini sangat strategis untuk menikmati senja bersama kolega atau teman akrab atau juga teman terkasih. Jika tidak kebagian tempat duduk dipinggiran Embung, spot lain yang tidak kalah bagus adalah spot depan Cafe atau depan dari spot duduk pinggiran Embung. Spot ini dibuat dengan interior mirip di Kafe-Kafe pinggir laut dengan hiasan ban orange bergantung di bawah mejanya. Disebelahnya juga terdapat manik-manik laut seperti jangkar dan dua keran kembar.

Konsep berbeda guna disuguhkan saat saya masuk ke teras Cafe. Interiornya lebih bernuansa tempo dulu dengan kursi kayu kombinasi ayaman dan meja bulat. Semakin ke dalam, interior yang disuguhkan lebih ke kombinasi interior Jawa dan barang-barang antik seperti cendela jaman dulu dan mesin jahit Singer. Sangat cocok untuk mereka yang hobby bersua foto.



Saat saya datang, mayoritas pembelian adalah mereka yang ingin melepas senja dengan teman-teman nya atau orang terkasih. Mereka memilih tempat strategis mereka. Beberapa orang lebih memilih bersua foto dengan latar belakang pilihan masing-masing. Saya yang saat itu datang dengan suami saya, memilih duduk di kursi kayu kombinasi anyaman dengan meja bulat. Kami bernostalgia dengan masa lalu masing-masing diatas kursi kayu kombinasi anyaman.

Menu yang ditawarkan pun cukup beragam, dari olahan lokal hingga minuman mancanegara semua ada. Aliran kopi mereka adalah Americano dengan jenis Arabika yang ditawarkan saat  itu ada Kerinci, Papua, Manak, Gayo, Toraja dan Wonosobo. Sedangkan robusta adalah Lampung dan Wonosobo. Saya memesan alternatif selain kopi, karena ingin mencicipi menu lain selain kopi. Jadilah kami memesan Taro Velvet,Hot Chocolate Dan Lumpia. Seperti kebiasaan, kafe-kafe pada umumnya, setelah pesanan di catat, pembeli langsung membayar nya. Saya mendapatkan pesan dari kasir, dia mengatakan untuk mengambil pesanannya sendiri sesuai nomer meja yang saat itu diberikan nya. Cukup unik tapi mengejutkan, dari beberapa kafe yang saya singgahi kafe inilah yang menyilakan pembeli mengambil sendiri pesanannya di meja bar.



Sekitar lima belas menit, ada panggilan nomor meja dan saya tahu itu meja saya. Saya pun menghampiri meja bar tempat saya memesan tadi sambil membawa nomor meja. Segelas Taro Velvet dengan Hot Chocolate dan dua lumpia dipiring, saya bawa dengan nampan.  Uniknya Taro Velvet dan Hot Chocolate dialasi kayu dengan bentuk yang abstrak, berukir Turi-Turi Coffee.

Saya dan Suami memberikan testimoni pertama setelah pesanan itu mendarat dengan selamat dimeja kami. Saat menyeruput segelas Taro Velvet dan Hot Chocolate pesanan masing-masing, kami segera berkomentar, rasa Taro Velvet saya benar-benar terasa kental umbi Ungu dan Hot Chocolate milik Suami, rasanya lebih soft dengan rasa manis menyeruap perlahan. Tuntas satu seruputan perdana, kami menikmati lumpia dua buah dalam satu piring. Rasanya sangat Semarangan sekali, isi lumpia ini rebung dengan perpaduan ayam dan wortel, mengingatkan saya pada lumpia khas Semarang. Kami masih menikmati senja dengan segala nostalgia barang-barang tempo dulu disana. Senja yang berganti gelap membuat kami harus pulang. Kafe itu masih ramai dengan pengunjung berdatangan terus menerus.




Kamu yang tertarik nostalgia dengan barang-barang lama atau sekedar menikmati syahdunya senja dipinggir Embung, Turi-Turi Coffee bisa jadi salah satu alternatifnya. Sampai jumpa di artikel berikutnya!!!

0 comments:

Posting Komentar

Share on

Twitter Linkedin Instagram Facebook

Find Me